Hi! Welcome Back and Stay Tune! Analisis Lengkap Konflik Timur Tengah - Mukah Pages : Media Marketing Make Easy With 24/7 Auto-Post System. Find Out How It Was Done!

Header Ads

Analisis Lengkap Konflik Timur Tengah




Kebutuhan untuk berkumpul dan menyatakan pendapat tercipta setelah kebutuhan dasar manusia terpenuhi. Dunia sudah memasuki era modern, arus globalisasi sudah tidak dapat dibendung lagi. Hubungan antar negara telah menjadi kebutuhan utama bagi setiap negara jika ingin mempertahankan eksistensi dan memajukan negaranya. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa konflik di suatu negara dapat mempengaruhi kehidupan ekonomi di berbagai negara. 

Menurut Carl J Friedrich politik merupakan suatu upaya atau cara untuk memperoleh atau mempertahankan kekuatan. Politik juga dapat diartikan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki yang akan digunakan untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Kehidupan berpolitik tak pernah lepas dari kehidupan sosial suatu negara. Masyarakat di Timur Tengah dengan didominasi oleh bangsa arab mengakibatkan kultur pemerintahan yang ada di negara tersebut sebagian besar adalah diktator. Salah satu faktor historis karena di wilayah tersebut yang dahulu bersistem kekerajaan.

Situasi yang sekarang terjadi di beberapa negara Timur Tengah ternyata juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi di berbagai negara lain seperti Indonesia. Ada dua dampak yang dirasakan oleh Indonesia -dampak langsung dan tidak langsung. Kehidupan ekonomi suatu negara memang tidak pernah lepas dari hubungan antar negara. Hubungan antar negara diwujudkan dalam hubungan keilmuan, sosial, politik, diplomatik, ekonomi, budaya dan pertahanan dan keamanan.

A. Tinjauan Tentang Konflik Timur Tengah
Setiap negara tidak pernah lepas dari kehidupan politik. Ibarat ada gula ada semut maka di mana ada masyarakat, di situ selalu muncul kekuasaan. Kehidupan politik suatu negara berjalan dinamis dan senantiasa bergejolak dari waktu ke waktu. Hal inilah yang membuat beberapa negara di Timur Tengah sekarang sedang mengalami pergolakan politik. Berikut beberapa faktor munculnya pergolakan di negara-negara Timur Tengah: 

Kepemimpinan Yang Diktator
Negara- Negara Timur tengah yang menganut system politik “a-demokrasi”(untuk tidak menyebut “totaliter”, “otoriter” atau “dictator”) seperti diketahui pada umumnya rezim-rezim di dunia arab meraih kekuasaan melalui alternative, karena warisan (monarki) atau kudeta militer.

Sebagian besar negara yang berkonflik memiliki pemimpin yang cenderung diktator sehingga warga negara merasa tidak bisa sepenuhnya berpartisipasi dalam penyelenggaraan negara. Hal inilah yang membuat ada dorongan kelompok untuk menyampaikan aspirasinya. Jika melalui cara yang formal dan legal tidak ada tanggapan yang serius dari pemerintahnya maka cara radikal dengan melakukan unjuk rasa merupakan cara yang menurut sebagian warga negara akan mendapatkan tanggapan yang pasti dari negara. Seperti yang dilakukan di Mesir, Libya, irak dan Tunisia.

Ideologi Keagamaan dan Ideologi Politik
Sebagai pusat perkembangan agama dunia timur tengah memiliki khasanah pemikiran keagamaan yang sangat kompleks. Namun dalam dalam batas tertentu, sejarah perkembangan politik keagamaan di timur tengah di warnai oleh gejala konflik dari tingkat yang kontruktif sampai tingkat destruktif. 

Ideology keagamaan  yang menampakkkan gejala konflik dalam adab 20 adalah mazhab besar islam yakni sunni dan syi’ah. Tradisi konflik sunni dan syi’ah sebenarnya sudah terjadi pasca nabi Muhammad saw meninggal dunia. Kulminasi dalam sejarah modern  adalah konflik  iran-irak, di mana iran mewakili tradisi syi’ah dan irak tidak sepenuhnya mewakili tradisi sunni, namun banyak kerajaan sunni memberikan dukungan kepada kerajaan Israel. 

Dalam tingkat  Negara, konflik sunni – syiah juga terjadi  pada beberapa Negara seperti Iraq, iran, arab Saudi dan libanon. Ada yang berupa peminggiran kelompok syi’ah terutama di Iraq, arab Saudi dan ada pula peminggiran kepada kelompok sunni terutam di iran,  atau di bentuk rotasi kekuasaan yang dilakukan  di libanon dimana kelompok keagamaan satu sama lain salin salin membangun aliansi politik.

Konflik Antar Masyarakat Pada Konflik Timur Tengah
Dalam konteks konflik antar masyarakat banyak terjadi di lokasi yang mengalami akskalasi konflik yang sangat tinggi.  Pola ini tidak bias dilepaskan dari persoalan konflik di tingkat negar. Artinya jika suatu negaraa memiliki kerawanan konflik maka akan mengalami efek spiral ke masyarakat. Kasus yang memngemuka terjadi daerah palestina , Iraq maupun di Israel. 

Untuk kasus palestina konflik sering terjadi ketika faksi-faksi perlawanan di palestina mendapatkan posisisi yang delematis akibat hasil perundingan yang ditempuh oleh otoritas palestina terhadap Israel. Dalam kasus perjanjian rahisia oslo antara Arafat dengan rabin akhirnya menimbulkan konflik antar masuarakat pelestina sendiri. Demikian pula kasus gaza jerico first yang akan memberikan konfensasi bagi keterlibatan warga palestina uantuk bias bekerja di Israel dengan konfensasi Arafat harus memerangi sayap perlawanan palestina yang lain . kasus semacam ini juga muncul lagi ketika Israel membidani lahirnay struktur perdana mentri struktur pemerintah palestina yang menepatkan Mahmud abbas yang harus berisi tegang dengan kubu Arafat.

Perbatasan
Ada kecendrungan pola konflik perbatasan yang berkembang di timur tengah banyak di sebabkan oleh dua factor:

Pertama, factor alamiah yakni  konflik perbatasan yang disebabkan oleh kondisi perbatasaan yang memungkinkan proses migrasi anatar Negara berjalan dengan intensif. Hala ini bias dipahami karena area perbatasan antar Negara tidak dibatasi oleh alam.

Kedua, artificial yakni konflik perbatasan yang disebabkan oleh adanya perubahaan perbatasan sebelumnya setelah ada kebijakan baru. Salah satu variable yang sangat dominan adalah kebijan pemerintah colonial yang sering kai membuat garis perbatasan dengan menabrak garis-garis perbatasan alamiah seperti etnis, sungai, gunung. Hal inilah yang kemudian menimbulkan gejala separatism daan irredentisme, yakni sebuah gejala untuk memisahkan diri dari suatu Negara karena perbedaan etnis untuk kemudian bergabung dengan Negara lain yang memiliki kesamaan etnis. Kasus konflik perbatasan antara iran, Iraq, Kuwait, jordania, suria, libanon lebih banyak dikarenakan masalah ini.

Ekonomi di Timur Tengah Menjadi Konflik Timur Tengah
Konflik yang terjadi di negara-negara di kawasan Timur Tengah telah memberikan guncangan pada perekonomian global, hal ini dapat kita lihat langsung pada kondisi di pasar modal dengan indikator naik turunnya indeks perdagangan saham gabungan pada seluruh bursa di dunia. Kondisi terakhir yang dapat kita katakan sebagai revolusi ini, terjadi diberbagai negara yang dimulai oleh penggulingan Presiden Ben Ali dari Tunisia dan Presiden Mubarak dari Mesir. Di mana keduanya sudah berkuasa sedemikian lamanya. 

Dampak konflik di Timur Tengah terhadap ekonomi global ini tentu saja membuat kekhawatiran yang sangat beralasan. Seperti yang kita ketahui bersama kawasan ini merupakan kawasan yang sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan dunia termasuk di dalamnya adalah minyak selain minyak nabati dan gandum. Di kawasan Timur-Tengah juga terdapat semacam muatan sakral yaitu adanya kota-kota suci seperti Mekkah, Madinah, Yerussalem, Karbala, dan juga Qom. Dalam batas tertentu fenomena ini kemudian melahirkan tren baru yakni bisnis wisata ziarah ke tempat suci. Mesir di sini sangat memegang peranan penting selaku negara yang dilewati terusan Suez, yang menghubungkan laut merah dan mediterania. 

Dengan terjadinya gejolak di Mesir beberapa saat yang lalu maka terjadi kenaikan harga minyak dunia yang hampir mencapai US$100/barrel. Dan kenaikan harga minyak ini akan terus bertambah dan sulit untuk dikontrol terlebih lagi dengan gejolak yang terjadi di Libya saat ini.

Konflik yang berkelanjutan di Timur Tengah tentu akan sangat membuat kondisi ekonomi dunia terutama harga minyak sulit untuk diatasi. Disatu sisi kondisi ini telah menimbulkan keresahan bahkan ketakutan bagi semua orang yang bekerja dan tinggal di Timur Tengah. Ribuan orang kini telah meninggalkan Timur Tengah dan kembali ke negara-negara asal mereka. Tidak terkecuali rakyat Indonesia yang bekerja dibeberapa perusahaan di Mesir dan Libya.

Selain itu, apabila krisis politik dikawasan ini berkelanjutan, dapat mengakibatkan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung serta upaya menurunkan harga di sektor pangan dikawasan ini dapat terganggu. Harapan kita semoga kondisi dikawasan ini segera membaik, yang tentunya diikuti pula dengan membaiknya harga pangan.Dan yang paling penting adalah harga minyak yang menjadi konsumsi rumah tangga terbesar di dunia dapat turun dan stabil diharga normal.

Dampak Krisis Timur Tengah terhadap Indonesia, dalam jangka pendek tidak akan berdampak secara langsung terhadap nilai perdagangan Indonesia. Alasannya rasional yaitu, hubungan dagang langsung antara Indonesia dengan Timur Tengah memang sangat kecil. Sejauh ini, pasar ekspor Indonesia lebih banyak mengarah ke kawasan Asia daripada kawasan Timur Tengah.

Akan tetapi gejolak di Timur Tengah dan Afrika Utara mampu mendorong harga komoditas di pasar global, terutama pangan dan energi. Artinya, krisis Timur Tengah meningkatkan risiko dan premi risiko untuk lalu lintas perdagangan barang global, termasuk negara Indonesia. Tidak hanya itu, krisis politik di Timur Tengah juga bisa menyebabkan meningkatnya biaya freight dan asuransi kapal. Kenyataan ini jelas mempengaruhi pasar keuangan dunia, termasuk di Asia, sehingga ketidakpastian pasar di negara-negara Asia termasuk Indonesia akan naik. 

Dorongan Atau Hegemoni Dari Negara Lain Dalam Konflik Timur Tengah
Yang dimaksud dorongan disini dibagi menjadi dua. Dorongan internal dan eksternal. Keberhasilan Tunisia dan Mesir menjadi dorongan internal bagi negara-negara yang ingin melakukan aksi yang sama yang memang internal negara tersebut memiliki keinginan yang kuat untuk berubah. Dorongan eksternal adalah dorongan yang memang secara tersembunyi dilakukan oleh negara-negara yang memiliki kepentingan khusus bagi negara yang berkonflik. Hal ini memang perlu analisis yang mendalam tetapi menurut penulis, ada sebagian negara yang memang ada kepentingan Amerika untuk dapat memberikan pengaruh terhadap negara yang berkonflik agar Amerika mendapatkan keuntungan terutama dalam hal minyak bumi. 

Seperti Delegasi pada konferensi perdamaian internasional di Turki telah menyalahkan Amerika Serikat dan beberapa sekutunya di Timur Tengah untuk menciptakan krisis di Suriah. 

Para peserta dari 23 kebangsaan yang berbeda pada konferensi di Istanbul mengatakan bahwa desain imperialistik  AS, negara-negara Barat tertentu, Qatar dan Arab Saudi merupakan penyebab krisis, kata koresponden Istanbul Serena Shim.

Tamu Konferensi juga menolak setiap intervensi militer asing NATO atau lainnya di Suriah. Alasannya karena terorisme internasional ini terhadap negara saya telah membuat Suriah tidak akan berlutut, kata Tammam Azzam, seorang delegasi Suriah. Dan itu tidak akan berlutut.” Cathy Goodman yang datang jauh-jauh dari Amerika Serikat menunjukkan ketidak puasannya pada apa yang disebut negaranya telah melakukan intervensi di wilayahnya, terutama dalam konflik Suriah.

Amerika Serikat , dengan bantuan sekutu regionalnya, menginvasi dan menghancurkan negara-negara tertentu di kawasan ini karena ingin membangun hegemoninya atas negara  kaya minyak Timur Tengah.”Semua petualangan imperialis Amerika harus didanai oleh uang pajak Amerika dan itu datang langsung dari gaji. Sayangnya, di bawah Presiden AS Barack Obama kami memiliki anggaran militer terbesar dalam sejarah kami. Kami berusaha untuk menghentikan agresi imperialis – dalam semua manifestasi yang berbeda.

Perebutan Kekuasaan
Ini yang terjadi akibat ketidak kepuasan warga negara terhadap pemerintah. Bisa dikarenakan kemiskinan, pengangguran dan memburuknya kondisi ekonomi. Faktor-faktor tersebut mampu memunculkan tokoh oposisi baru yang merasa bisa membuat keadaan yang lebih baik. Akhirnya, tokoh akan menggerakkan masa untuk melakukan aksi unjuk rasa sehingga memicu terjadinya konflik. 

Secara umum negara yang berkonflik merupakan masyarakat fasis, yaitu suatu negara yang dikuasai oleh suatu partai diktator yang diorganisasi oleh seorang pemimpin kharismatik. Secara praktis rakyat tidak memiliki peranan dalam segala kegiatan pemerintahan dan merasakan kepuasan dengan menyaksikan kekuatan negara yang maha besar. Meskipun demikian, kelompok-kelompok yang merasa kepentingannya tidak terfasilitasi oleh negara maka mereka akan menjadi oposisi dan terus menerus menekan negara tersebut untuk berubah. Hal inilah yang membuat konflik yang terjadi dipicu oleh radikalitas dari pemimpin dan membuat beberapa kelompok juga berubah menjadi radikal melawan pemimpin negara. 

B. AS dan Demokratisasi di Timur Tengah: Tinjauan Politik Timur Tengah
Setelah revolusi berhasil menggulingkan Hosni Mubarak, pekan lalu rakyat Mesir justru terjerumus ke dalam konflik sektarian. Konflik sektarian tersebut terjadi antara warga muslim dan kristen. Dalam konflik yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)tersebut, setidaknya terdapat 11 orang yang tewas.

Konflik sektarian di Mesir adalah satu contoh resistensi politik di kawasan Timur Tengah setelah revolusi berhasil dilakukan.

Pascarevolusi, umumnya tuntutan sederhana yang dikehendaki rakyat dan para elite politik adalah melangsungkan pemilihan umum secara demokratis untuk memilih kepemimpinan baru.

Padahal, demokratisasi itu bukan hanya proses melangsungkan pemilihan umum. Seorang demokrat yang pemikirannya canggih tidak akan melihatnya dengan cara yang sederhana seperti itu. Demokrasi membutuhkan kondisi-kondisi awal yang memadai. Misalnya, tingkat perkembangan ekonomi tertentu, pengetahuan serta keterampilan politik yang memadai di antara penduduknya, dukungan elite politik terhadap demokrasi, tradisi rule of law dan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang cukup kuat, kebudayaan yang menunjang, dan sebagainya. Semua ini dibutuhkan sebelum kebebasan menyatakan pendapat dan pemilihan umum yang luber (langsung, umum, bebas, rahasia) dan jurdil (jujur, adil) bisa diselenggarakan

Kondisi awal seperti ini penting untuk diperhatikan, karena proses politik demokrasi di masa transisi begitu rentan terhadap berbagai konflik kepentingan para elite. Dalam demokrasi biasanya ada pihak yang dirugikan dan diuntungkan sekaligus karena suara mayoritas nantinya yang akan menentukan siapa yang akan berkuasa dan siapa yang harus tersingkir. Dan pada level inilah demokrasi menjadi rawan. Elite yang biasanya mendapatkan hak istimewa dimasa pemerintahan otoriter kini harus mengikuti aturan main sistem demokrasi untuk ikut serta berkompetisi dalam pemilihan umum.

Di sini para elite yang tersingkir oleh aturan main demokrasi biasanya menggunakan sentimen nasionalisme SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) untuk membangun kekuatan politik agar proses demokrasi terganggu dan menimbulkan guncangan sosial-politik yang dasyat. 

Nasionalisme Sara
Ketika komunisme runtuh pada 1989, imajinasi yang indah sempat memukau para akademisi dan presiden Amerika Serikat (AS). Akademisi terkemuka dari  John Hopkins University, Francis Fukuyama, misalnya mengimajinasikan situasi pasca Perang Dingin sebagai era akhir sejarah, yakni titik akhir dari evolusi ideologi umat manusia dan makin universalnya demokrasi liberal Barat sebagai bentuk final pemerintahan umat manusiaa. Di sini Fukuyama juga berspekulasi bahwa akhir sejarah akan membuat perang menjadi usang karena demokrasi dapat mencegah negara-negara saling berperang satu sama lain.

Dalam spirit yang sama dengan Fukuyama, Presiden Bill Clinton pada kurun waktu 1990-an menjadikan penyebaran demokrasi sebagai agenda utama politik luar negeri AS. Tujuannya adalah untuk menciptakan dunia yang bebas dari bencana perang, mengingat dalam sejarah politik internasional tidak ada dua negara demokrasi yang saling memerangi satu sama lain.

Memang gelombang demokratisasi yang relatif stabil terjadi pada era 1990-an dan menyebar seperti efek bola salju di beberapa wilayah seperti di Amerika Latin, Eropa bagian selatan, Eropa Timur, dan bahkan merambah sampai ke wilayah asia Timur. Tetapi ironis, di era ini juga tercatat beberapa konflik nasionalis yang berkepanjangan akibat demokratisasi.

Jack Snyder mengatakan dalam bukunya yang termasyur “From Voting to Violence: Democratization and Nationalist Conflict” menemukan beberapa fakta mengenai keterkaitan antara demokratisasi dan konflik nasionalisme.

Fakta yang ditemukan dalam studi Snyder ini berhubungan dengan apa yang disebutnya sebagai nasionalisme SARA. Nasionalisme SARA adalah nasionalisme yang legitimasinya mendasarkan pada budaya, ras, agama, pengalaman sejarah, dan/atau mitos nenek moyang yang sama. Celakanya kriteria nasionalisme SARA itu digunakan untuk memasukan atau mengeluarkan orang ke dalam dan dari kelompok nasional, karena itu benturan dari unsur SARA yang berbeda dapat terjadi kapan saja. 

Dalam studi Snyder ditemukan bahwa kebanyakan negara-negara yang sedang tercebur dalam konflik SARA selama dasawarsa 1990-an adalah negara-negara yang sedang mengalami kemajuan parsial dalam hal kebebasan politik atau kebebasan sipil satu sampai dua tahun sebelum pecahnya pertiakaian SARA. Maksudnya bagian terbesar dari konflik SARA tersebut terjadi di negara-negara yang sedang menuju tahapan transisi demokratis.

Sebagai contoh, pecahnya konflik SARA di bekas Yugoslavia antara orang-orang Armenia dan bekas republik Soviet Azerbaijan, dan di Rusia antara provokator perang melawan gerakan separatis Checchen terjadi akibat lemahnya kekuatan institusi politik yang terdapat di masing-masing negara tersebut. 

Begitupula untuk kasus Burundi. Pada awalnya pemerintahan militer minoritas Tutsi bersedia melaksanakan pemilihan umum pada 1993 seperti yang dianjurkan lembaga donor internasional dan minoritas Tutsi juga menyetujui untuk berbagi kekuasaan dengan mayoritas Hutu yang sudah lama tertindas. Akan tetapi ketika hasil pemilihan umum ternyata mendudukkan seorang presiden dari mayoritas Hutu dan mencoba memasukkan mayoritas Hutu ke dalam jajaran militer, mulai tumbuh rasa cemburu dari minoritas Tutsi. Hal itulah yang kemudian menimbulkan rasa takut dan dendam dari kedua pihak (Tutsi dan Hutu). Akibatnya hanya dalam tempo setahun sekitar 50.000 warga suku Hutu dan Tutsi terbunuh dalam kerusuhan SARA di sana. 

Bahaya Demokratisasi
Contoh kasus konflik SARA di bekas Yugoslavia dan Burundi sangat mirip dengan apa yang terjadi di Mesir, konflik sektarian. Bagi negara-negara Timur Tengah lainnya yang baru saja berhasil menggulingkan pemerintahannya yang otoriter, seperti Tunisia, atau mungkin juga Yaman, Bahrain dan Libia yang masih dalam proses pergolakan, ketiga contoh konflik SARA di atas dapat menjadi pelajaran yang berharga untuk bagaimana memulai tahapan demokrasi.

Timur Tengah seperti diketahui sangat kental dengan gerakan nasionalismenya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Kim Holmes, bahwa nasionalisme negara-negara Timur Tengah biasanya di dorong oleh elite dan ulama. Para elite biasanya mendorong dan mengeksploitasi sentimen rakyat untuk menciptakan nasionalisme. Tidak kalah penting, ulama-ulama Islam juga terkadang mengeksploitasi keyakinan agama untuk mendorong kebencian sosial.

Dalam konteks untuk membangun demokrasi secara stabil di kawasan Timur Tengah, hal ini jelas menjadi persoalan tersendiri. Untuk itu negara-negara Timur Tengah yang sedang melakukan proses demokratisasi perlu melakukan penguatan nasionalisme sipil untuk menghindari timbulnya nasionalisme SARA. Yang dimaksud dengan nasionalisme sipil adalah jika para elite politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan institusi politik (kelembagaan negara) yang ada cukup kuat untuk menampung proses ini.

Jika nasionalisme sipil ini berhasil ditumbuh-kembangkan di negara-negara Timur Tengah yang sedang menuju tahapan demokrasi, berbagai kepentingan elite politik yang berbeda dapat dipersatukan, karena institusi politik yang ada di anggap kokoh. Untuk itu, demokrasi dapat dipercaya sebagai pemersatu bangsa, karena dapat menciptakan kesetaraan warga negara tanpa melihat dari jenis suku apa, warna kulit apa, dan dari keturunan mana.

Sebaliknya, jika kondisi nasionalisme sipil ini gagal dibangun, demokrasi hanya akan menjadi sistem politik yang membahayakan bagi masyarakat sipil. Untuk itu kondisi-kondisi awal demokrasi seperti yang telah disebutkan di atas penting untuk diperhatikan secara serius agar negara-negara Timur Tengah tidak terjerumus ke dalam konflik sipil berdarah.

C. Transnasional di Timur Tengah
Menurut Richard Falk Transnasional adalah perpindahan informasi, barang, dan gagasan melintasi batas wilayah nasional tanpa partisipasi atau dikendalikan langsung oleh aktor-aktor pemerintah. Salah satu ciri pokok dari hubungan transnasional adalah adanya berbagai jenis interaksi yang mem-by-pass pemerintah negara-negara dan yang secara langsung mempengaruhi lingkungan dalam negeri pemerintah-pemerintah nasional itu. Adapun aktor-aktor non negara dalam hubungan internasional ini dapat berwujud kelompok suku, separatis di dalam negara, berbagai kelompok kepentingan ekonomi.

Salah satu faktor determinan berlarutnya masalah Suriah adalah masuknya negara asing. Baik negara asing penyokong oposisi, seperti Amerika, negara Uni Eropa, serta Arab Saudi, Qatar, dan Turki; maupun negara asing pendukung rezim seperti Rusia, China, dan Iran. 

Tidak hanya negara asing, Suriah menjadi destinasi “jihad” gerakan Islam transnasional. Bisa disebut Jabhat al-Nusrah yang berafiliasi dengan al-Qaidah yang ideologi alirannya masuk Wahabi. Banyak para kombatannya dari berbagai negara Timur Tengah, bahkan dari Barat. Demikian juga brigade Ansarul Khilafah dan afiliasinya. Hampir bisa dipastikan, kelompok minoritas ini adalah simpatisan dan aktivis Hizbut Tahrir. 

Setelah terbentuknya Syrian National Council (SNC), kelompok oposisi terbelah. SNC berupaya menumbangkan kediktatoran Basyar Assad. Sedang kelompok Jabhah al-Nusrah yang akhirnya bergabung dengan Ansar al-Khilafah menginginkan negara Islam atau negara Khilafah. 

Tentu kelompok Islam transnasional ini berkontribusi besar dalam gerakan bersenjata dan aksi bom bunuh diri. Perang di Suriah ini telah memakan banyak korban mulai dari anak-anak, hingga tokoh besar Ahlussunnah, Said Ramadhan al-Buthi. Bahkan yang ganjil, masjid ikut diledakkan, serta mayat sahabat Nabi diambil jenazahnya oleh kelompok Takfiri.

D. Konflik Timur Tengah Antara Palestina-Israel
Palestina adalah sebuah nama untuk wilayah barat Syiria, yaitu wilayah yang terletak di bagian barat Asia dan bagian pantai timur Laut Tengah. Sebagaimana diketahui oleh para arkeolog bahwa kota yang pertama kali dibangun dalam sejarah manusia adalah kota Ariha yang terletak di timur laut Palestina yang dibangun kira-kira 8000 tahun SM. Palestina pada awalnya memang merupakan tanah air bagi bangsa Israel yaitu dari tahun 1000 SM-135 M.

Pada tahun 1000 SM, Nabi Daud A.S bersama dengan Thalut (Alqur’an S. 2: 246-251) dapat mengalahkan bangsa Amaliqah dan Philistine (rakyat yang suka berperang di Palestina) dari negeri Palestina, sehingga Nabi Daud A.S bersama dengan keturunannya menjadi raja di sana. Dalam rentang waktu yang lama (1000SM-135 M) negeri Palestina pernah berada di bawah kerajaan Achaemanid Persia (539 SM-330 SM). Kira-kira dua abad sebelumnya negeri itu berada di bawah Kerajaan Assyiria dan Babilonia.

Kemudian selama kurang lebih 300 tahun Palestina berada di bawah dinasti Ptomely dari Mesir dan Dinasti Selecuid dari India bagian barat, sampai kemudian muncul Roma yang menaklukan Dinasti Selecuid pada tahun 63 SM. Pada tahun 611 M, raja Chosroes dari Kerajaan Sasan (Persia) datang menyerang hingga berhasil merebut negeri Palestina dari Romawi; Romawi berhasil merebut kembali negeri itu tahun 628 M pada masa pemerintahan Raja Heraclius; Umar bin Khattab ra kemudian menyerang negeri Palestina pada tahun 636 M dan berhasil menguasainya. Pemerintahan Islam kemudian beralih dari Umar bin Khattab ra kepada Dinasti Umayyah (661-749 M) hingga akhirnya Dinasti Abbasiyyah (749-940 M).

Sumber konflik timur tengah masalah Palestina-Israel dapat dilihat dari dua hal: 

Pertama, segi agama. Agama-agama besar dunia yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, menganggap wilayah Palestina sebagai tempat suci bagi mereka. Di Palestina terdapat Tembok Ratapan yang amat dihormati menurut Yudaisme, sementara bagi umat Kristen tempat tersuci di kawasan itu adalah Gereja Kuburan Suci yang didirikan sebagai tanda bagi tempat penyaliban, pemakaman, dan juga kebangkitan Yesus, sedangkan umat Islam menganggap kota Yerusalem sebagai tempat suci ketiga setelah Mekkah dan Madinah, karena di sini terdapat Masjidil Aqsha tempat Nabi Muhammad SAW melakukan Mi’raj.

Kedua, segi sejarah. Sejarah juga menjadi faktor penyulut konflik Palestina-Israel, karena tempat-tempat di Israel terdapat situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan agama dan tempat tinggal orang-orang Yahudi, Islam, dan juga Kristen. Sampai sekarang ini, baik orang Yahudi, Islam dan Kristen banyak berkunjung ke daerah ini untuk beromantisme dengan tempat tinggal nenek moyang dan nabi-nabi mereka.

Hingga kemudian berdirinya Negara Israel pada tahun 1948 yang mendapat penolakan terutama dari rakyat Palestina. Mereka kemudian membentuk kelompok-kelompok gerakan anti Israel salah satunya yaitu HAMAS. HAMAS yang merupakan akronim dari Harakah al-Muqawamah al-Islamiyyah (Gerakan Perlawanan Islam), adalah metamorfosis dari gerakan IM (Ikhwanul Muslimin) yang telah dilakukan sejak tahun 1930-an di Palestina. Berbeda dengan FATAH dan PLO yang berideologi nasionalisme dan semangat kebangsaan, HAMAS berideologi Islam. 

Sejak tahun 1970-an, sebetulnya IM telah memperlihatkan kekecewaan pada berbagai sepak terjang PLO. Kekecewaan terutama setelah PLO dipimpin oleh Yasser Arafat menggantikan Yahya Hammuda pada tahun 1969. HAMAS sendiri didirikan oleh tokoh IM Palestina yang sangat brilian, Syekh Ahmad Yasin.

Bermula dari didirikannya “Mujahidin Palestina” di Jalur Gaza yang dipersiapkan sebagai jembatan untuk kembali mentransformasikan gerakan IM dari gerakan sosial dan pendidikan ke gerakan militer dan juga politik. Syekh Ahmad Yassin kemudian ditangkap pada tahun 1983 karena dituduh membentuk kelompok militer bersenjata dan menggerakkan berbagai aksi kerusuhan. Pada tahun 1985, beliau dibebaskan melalui program pertukaran tawanan antara Israel dengan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina.

HAMAS semakin populer ketika berhasil menyandera dua serdadu Israel tahun 1989. Akibatnya, beliau ditahan bersama ratusan anggota Hamas lainnya pada tanggal 18 Mei 1989; Tekanan yang keras dari para pejuang Palestina memaksa Pemerintah Israel membebaskan Syekh Ahmad Yassin; Beliau dibebaskan melalui perjanjian antara pemerintah kerajaan Yordania dengan Israel. Dengan perjanjian itu, beliau dibebaskan dengan pertukaran dua antek Yahudi yang ditahan di Yordania karena mencoba membunuh kepala Biro Politik Hamas, Khaled Mashal.

HAMAS kemudian bermertamorfosis menjadi sebuah Partai Politik dengan memutuskan mengikuti Pemilu legislatif tahun 2006 sebagai kekecewaan terhadap semakin tunduknya FATAH kepada Israel walaupun Israel telah tebukti berkali-kali mengkhianati perundingan-perundingan yang dilakukan. Tanpa diduga oleh banyak pihak HAMAS berhasil memenangi pemilu. HAMAS meraih kursi terbanyak di parlemen. Pihak yang paling merasa kaget dalam hal ini adalah Amerika Serikat dan Israel. Pasalnya, secara resmi Amerika Serikat telah lama memasukkan HAMAS sebagai salah satu organisasi teroris begitupun dengan Israel. 

Beberapa saat setelah kemenangan HAMAS, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menyatakan keengganannya untuk bekerja sama dengan pemerintahan HAMAS kelak. Situasi semakin buruk ketika FATAH menolak untuk bergabung dalam pemerintahan yang akan dibentuk oleh HAMAS. Semua itu pada akhirnya melahirkan berbagai konflik dan rivalitas politik yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, singkatnya, kemenangan HAMAS dalam Pemilu Legislatif 2006 ini telah melahirkan konstelasi politik baru, baik pada konteks dalam negeri maupun luar negeri Palestina.

Analisis Konflik Timur Tengah
Politik timur tengah merupakan suatu upaya atau cara untuk memperoleh atau mempertahankan kekuatan. Politik juga dapat diartikan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki yang akan digunakan untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Kehidupan berpolitik tak pernah lepas dari kehidupan sosial suatu negara. Masyarakat di Timur Tengah dengan didominasi oleh bangsa arab mengakibatkan kultur pemerintahan yang ada di negara tersebut sebagian besar adalah diktator. Salah satu faktor historis karena di wilayah tersebut yang dahulu bersistem kekerajaan. Situasi yang sekarang terjadi di beberapa negara Timur Tengah ternyata juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi di berbagai negara lain seperti Indonesia. Ada dua dampak yang dirasakan oleh Indonesia -dampak langsung dan tidak langsung. Kehidupan ekonomi suatu negara memang tidak pernah lepas dari hubungan antar negara. Hubungan antar negara diwujudkan dalam hubungan keilmuan, sosial, politik, diplomatik, ekonomi, budaya dan pertahanan dan keamanan. 

Negara  timur tengah dibandingkan dengan kawasan yang lain dalam setting sejarah modern adalah wilayah ini memiliki posisi yang strategis dari sisi letak geografis yang menghubungkan benua eropa sebagai arus peradaban modern dan benua asia sebagai benua pasar. Aliran distribusi barang dan jasa, bahkan imigrasi orang banyak terjadi di wilayah ini. Di samping itu, timur tengah masih di yakini sebagai mesin penggerak industry dunia dengan asset minyak bumi yang dimiliki timur tengah. Sehingga tidak berlebihan kirannya timur tengah dipahami sebagai daerah yang memiliki publisitas yang tinggi, hal ini bias dilihat bahwa hamper setiap saat di media massa senantiasa memberikan informasi sekitar perkembanagan ekonomi, politik, budaya di timur tengah. Blum lagi factor keunikan spiritual timur tengah yang menjadi kiblat agama-agama besar  di dunia seperti islam, nasrani dan yahudi. Dari publisitas timur tengah inilah yang menjadikan Negara-negara di dalamnya rentan akan konflik.  Konflik merupakan bagian dari perputaran siklus kekuasaan yang memang sering terjadi di berbagai daerah. Semakin kompleksnya masyarakat dan semakin banyaknya pengaruh yang dilakukan oleh negara-negara kuat di dunia membuat negara bergerak secara dinamis juga. Kekuasan merupakan hal yang paling mendasar dalam suatu negara. Konflik yang terjadi di negara Timur Tengah merupakan konflik yang salah satunya dilatarbelakangi oleh kekuasaan di negara tersebut. Kita tidak bisa memberikan satu saja alasan yang mengakibatkan terjadinya konflik tersebut. Banyak faktor yang ada di balik terjadinya suatu konflik di negara. 

Negara-negara Timur Tengah yang saat ini menjadi sorotan media dunia menarik kita kaji dengan menggunakan pendekatan sosial politik yang akhirnya berpengaruh pada kehidupan ekonomi baik di negara tersebut maupun di negara yang memiliki hubungan dengan negara yang berkonflik. Dalam makalah ini nanti akan memberikan gambaran di beberapa negara yang mengalami konflik di Timur Tengah. Makalah ini juga akan memberikan ulasan terhadap dinamika sosial politik yang berdampak pada kehidupan ekonominya. 

Contoh negara timur tengah, Libya, Tunisia, Bahrain, dan Yaman merupakan negara arab yang saat ini sedang mengalami konflik yang muncul akibat revolusi yang ada di Mesir berhasil menjatuhkan presiden Hosni Mubarak. Situasi yang ada di Mesir kemudian memicu situasi-situasi lain di berbagai negara yang sebenarnya sudah ada benih untuk menggulingkan pemerintahan yang sudah ada. Kebutuhan untuk berkumpul dan menyatakan pendapat tercipta setelah kebutuhan dasar manusia terpenuhi. Dunia sudah memasuki era modern, arus globalisasi sudah tidak dapat dibendung lagi. Hubungan antar negara telah menjadi kebutuhan utama bagi setiap negara jika ingin mempertahankan eksistensi dan memajukan negaranya. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa konflik di suatu negara dapat mempengaruhi kehidupan ekonomi di berbagai negara. Setiap negara tidak pernah lepas dari kehidupan politik. Ibarat ada gula ada semut maka di mana ada masyarakat, di situ selalu muncul kekuasaan. Kehidupan politik suatu negara berjalan dinamis dan senantiasa bergejolak dari waktu ke waktu. Hal inilah yang membuat beberapa negara di Timur Tengah sekarang sedang mengalami pergolakan politik.

Ada beberapa negara yang masih menjadi konflik masalah Ideology keagamaan  yang menampakkkan gejala konflik dalam adab 20 adalah mazhab besar islam yakni sunni dan syi’ah. Tradisi konflik sunni dan syi’ah sebenarnya sudah terjadi pasca nabi Muhammad saw meninggal dunia. Kulminasi dalam sejarah modern  adalah konflik  iran-irak, di mana iran mewakili tradisi syi’ah dan irak tidak sepenuhnya mewakili tradisi sunni, namun banyak kerajaan sunni memberikan dukungan kepada kerajaan Israel. Dalam tingkat  Negara, konflik sunni – syiah juga terjadi  pada beberapa Negara seperti Iraq, iran, arab Saudi dan libanon. Ada yang berupa peminggiran kelompok syi’ah terutama di Iraq, arab Saudi dan ada pula peminggiran kepada kelompok sunni terutam di iran,  atau di bentuk rotasi kekuasaan yang dilakukan  di libanon dimana kelompok keagamaan satu sama lain salin salin membangun aliansi politik. 

Untuk kasus palestina konflik sering terjadi ketika faksi-faksi perlawanan di palestina mendapatkan posisisi yang delematis akibat hasil perundingan yang ditempuh oleh otoritas palestina terhadap Israel. Dalam kasus perjanjian rahisia oslo antara Arafat dengan rabin akhirnya menimbulkan konflik antar masuarakat pelestina sendiri. Demikian pula kasus gaza jerico first yang akan memberikan konfensasi bagi keterlibatan warga palestina uantuk bias bekerja di Israel dengan konfensasi Arafat harus memerangi sayap perlawanan palestina yang lain . kasus semacam ini juga muncul lagi ketika Israel membidani lahirnay struktur perdana mentri struktur pemerintah palestina yang menepatkan Mahmud abbas yang harus berisi tegang dengan kubu Arafat. Konflik yang terjadi di negara-negara di kawasan Timur Tengah telah memberikan guncangan pada perekonomian global, hal ini dapat kita lihat langsung pada kondisi di pasar modal dengan indikator naik turunnya indeks perdagangan saham gabungan pada seluruh bursa di dunia. Kondisi terakhir yang dapat kita katakan sebagai revolusi ini, terjadi diberbagai negara yang dimulai oleh penggulingan Presiden Ben Ali dari Tunisia dan Presiden Mubarak dari Mesir. Di mana keduanya sudah berkuasa sedemikian lamanya. Dampak konflik di Timur Tengah terhadap ekonomi global ini tentu saja membuat kekhawatiran yang sangat beralasan.

Seperti yang kita ketahui bersama kawasan ini merupakan kawasan yang sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan dunia termasuk di dalamnya adalah minyak selain minyak nabati dan gandum. Di kawasan Timur-Tengah juga terdapat semacam muatan sakral yaitu adanya kota-kota suci seperti Mekkah, Madinah, Yerussalem, Karbala, dan juga Qom. Dalam batas tertentu fenomena ini kemudian melahirkan tren baru yakni bisnis wisata ziarah ke tempat suci. Mesir di sini sangat memegang peranan penting selaku negara yang dilewati terusan Suez, yang menghubungkan laut merah dan mediterania. 

Dengan terjadinya gejolak di Mesir beberapa saat yang lalu maka terjadi kenaikan harga minyak dunia yang hampir mencapai US$100/barrel. Dan kenaikan harga minyak ini akan terus bertambah dan sulit untuk dikontrol terlebih lagi dengan gejolak yang terjadi di Libya saat ini. 

Selain itu, apabila krisis politik dikawasan ini berkelanjutan, dapat mengakibatkan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung serta upaya menurunkan harga di sektor pangan dikawasan ini dapat terganggu. Harapan kita semoga kondisi dikawasan ini segera membaik, yang tentunya diikuti pula dengan membaiknya harga pangan.Dan yang paling penting adalah harga minyak yang menjadi konsumsi rumah tangga terbesar di dunia dapat turun dan stabil diharga normal.

Dampak Krisis Timur Tengah terhadap Indonesia, dalam jangka pendek tidak akan berdampak secara langsung terhadap nilai perdagangan Indonesia. Alasannya rasional yaitu, hubungan dagang langsung antara Indonesia dengan Timur Tengah memang sangat kecil. Sejauh ini, pasar ekspor Indonesia lebih banyak mengarah ke kawasan Asia daripada kawasan Timur Tengah.

Akan tetapi gejolak di Timur Tengah dan Afrika Utara mampu mendorong harga komoditas di pasar global, terutama pangan dan energi. Artinya, krisis Timur Tengah Jmeningkatkan risiko dan premi risiko untuk lalu lintas perdagangan barang global, termasuk negara Indonesia. Tidak hanya itu, krisis politik di Timur Tengah juga bisa menyebabkan meningkatnya biaya freight dan asuransi kapal. Kenyataan ini jelas mempengaruhi pasar keuangan dunia, termasuk di Asia, sehingga ketidakpastian pasar di negara-negara Asia termasuk Indonesia akan naik. Yang dimaksud dorongan disini dibagi menjadi dua. Dorongan internal dan eksternal. Keberhasilan Tunisia dan Mesir menjadi dorongan internal bagi negara-negara yang ingin melakukan aksi yang sama yang memang internal negara tersebut memiliki keinginan yang kuat untuk berubah. Dorongan eksternal adalah dorongan yang memang secara tersembunyi dilakukan oleh negara-negara yang memiliki kepentingan khusus bagi negara yang berkonflik. Hal ini memang perlu analisis yang mendalam tetapi menurut penulis, ada sebagian negara yang memang ada kepentingan Amerika untuk dapat memberikan pengaruh terhadap negara yang berkonflik agar Amerika mendapatkan keuntungan terutama dalam hal minyak bumi. 

Kalau menurut saya pribadi  yang terjadi konflik timur tengah akibat ketidak kepuasan warga negara terhadap pemerintah. Bisa dikarenakan kemiskinan, pengangguran dan memburuknya kondisi ekonomi. Faktor-faktor tersebut mampu memunculkan tokoh oposisi baru yang merasa bisa membuat keadaan yang lebih baik. Akhirnya, tokoh akan menggerakkan masa untuk melakukan aksi unjuk rasa sehingga memicu terjadinya konflik. Secara umum negara yang berkonflik merupakan masyarakat fasis, yaitu suatu negara yang dikuasai oleh suatu partai diktator yang diorganisasi oleh seorang pemimpin kharismatik. Secara praktis rakyat tidak memiliki peranan dalam segala kegiatan pemerintahan dan merasakan kepuasan dengan menyaksikan kekuatan negara yang maha besar. Meskipun demikian, kelompok-kelompok yang merasa kepentingannya tidak terfasilitasi oleh negara maka mereka akan menjadi oposisi dan terus menerus menekan negara tersebut untuk berubah. Hal inilah yang membuat konflik yang terjadi dipicu oleh radikalitas dari pemimpin dan membuat beberapa kelompok juga berubah menjadi radikal melawan pemimpin negara.

Pascarevolusi, umumnya tuntutan sederhana yang dikehendaki rakyat dan para elite politik adalah melangsungkan pemilihan umum secara demokratis untuk memilih kepemimpinan baru. Padahal, demokratisasi itu bukan hanya proses melangsungkan pemilihan umum. Seorang demokrat yang pemikirannya canggih tidak akan melihatnya dengan cara yang sederhana seperti itu. Demokrasi membutuhkan kondisi-kondisi awal yang memadai. Misalnya, tingkat perkembangan ekonomi tertentu, pengetahuan serta keterampilan politik yang memadai di antara penduduknya, dukungan elite politik terhadap demokrasi, tradisi rule of law dan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang cukup kuat, kebudayaan yang menunjang, dan sebagainya. Semua ini dibutuhkan sebelum kebebasan menyatakan pendapat dan pemilihan umum yang luber (langsung, umum, bebas, rahasia) dan jurdil (jujur, adil) bisa diselenggarakan  Kondisi awal seperti ini penting untuk diperhatikan, karena proses politik demokrasi di masa transisi begitu rentan terhadap berbagai konflik kepentingan para elite. Dalam demokrasi biasanya ada pihak yang dirugikan dan diuntungkan sekaligus karena suara mayoritas nantinya yang akan menentukan siapa yang akan berkuasa dan siapa yang harus tersingkir. Dan pada level inilah demokrasi menjadi rawan. Elite yang biasanya mendapatkan hak istimewa dimasa pemerintahan otoriter kini harus mengikuti aturan main sistem demokrasi untuk ikut serta berkompetisi dalam pemilihan umum. Timur Tengah seperti diketahui sangat kental dengan gerakan nasionalismenya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Kim Holmes, bahwa nasionalisme negara-negara Timur Tengah biasanya di dorong oleh elite dan ulama. Para elite biasanya mendorong dan mengeksploitasi sentimen rakyat untuk menciptakan nasionalisme. Tidak kalah penting, ulama-ulama Islam juga terkadang mengeksploitasi keyakinan agama untuk mendorong kebencian sosial.

Dalam konteks untuk membangun demokrasi secara stabil di kawasan Timur Tengah, hal ini jelas menjadi persoalan tersendiri. Untuk itu negara-negara Timur Tengah yang sedang melakukan proses demokratisasi perlu melakukan penguatan nasionalisme sipil untuk menghindari timbulnya nasionalisme SARA. Yang dimaksud dengan nasionalisme sipil adalah jika para elite politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan institusi politik (kelembagaan negara) yang ada cukup kuat untuk menampung proses ini.

Jika nasionalisme sipil ini berhasil ditumbuh-kembangkan di negara-negara Timur Tengah yang sedang menuju tahapan demokrasi, berbagai kepentingan elite politik yang berbeda dapat dipersatukan, karena institusi politik yang ada di anggap kokoh. Untuk itu, demokrasi dapat dipercaya sebagai pemersatu bangsa, karena dapat menciptakan kesetaraan warga negara tanpa melihat dari jenis suku apa, warna kulit apa, dan dari keturunan mana.

Sebaliknya, jika kondisi nasionalisme sipil ini gagal dibangun, demokrasi hanya akan menjadi sistem politik yang membahayakan bagi masyarakat sipil. Untuk itu kondisi-kondisi awal demokrasi seperti yang telah disebutkan di atas penting untuk diperhatikan secara serius agar negara-negara Timur Tengah tidak terjerumus ke dalam konflik sipil berdarah.

Sejarah juga menjadi faktor penyulut konflik Palestina-Israel, karena tempat-tempat di Israel terdapat situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan agama dan tempat tinggal orang-orang Yahudi, Islam, dan juga Kristen. Sampai sekarang ini, baik orang Yahudi, Islam dan Kristen banyak berkunjung ke daerah ini untuk beromantisme dengan tempat tinggal nenek moyang dan nabi-nabi mereka. Hingga kemudian berdirinya Negara Israel pada tahun 1948 yang mendapat penolakan terutama dari rakyat Palestina. Mereka kemudian membentuk kelompok-kelompok gerakan anti Israel salah satunya yaitu HAMAS. HAMAS yang merupakan akronim dari Harakah al-Muqawamah al-Islamiyyah (Gerakan Perlawanan Islam), adalah metamorfosis dari gerakan IM (Ikhwanul Muslimin) yang telah dilakukan sejak tahun 1930-an di Palestina. Berbeda dengan FATAH dan PLO yang berideologi nasionalisme dan semangat kebangsaan, HAMAS berideologi Islam. Sejak tahun 1970-an, sebetulnya IM telah memperlihatkan kekecewaan pada berbagai sepak terjang PLO. Kekecewaan terutama setelah PLO dipimpin oleh Yasser Arafat menggantikan Yahya Hammuda pada tahun 1969. HAMAS sendiri didirikan oleh tokoh IM Palestina yang sangat brilian, yaitu Syekh Ahmad Yasin.

Sumber: rangkumanmakalah.com








Sumber islamidia.com http://ift.tt/2iPX4r9

No comments

Comments are welcome and encouraged on this site. Comments deemed to be spam or solely promotional will be deleted. Including link to relevant content is permitted, but comments should be relevant to the post topic.

Comments including profanity and containing language that could deemed offensive will also deleted. Please respectful toward other contributors. Thank you.